Sabtu, 09 Juni 2012

puisi


Kesan Jalanku
Jiwa muda yang membara
pancarkan secercah cahaya
Tertuju pada sebuah masa
Terangkan tapak jalan asa

Hei kau pembias ungu
yang tertawa walau pilu
Kikis manis putih abu-abu
jalan temukan semua pengertian
Kadang berat kurasa ini beban
tapi yakin ku bisa kalahkan

Hai taman pengurai wahyu
yang bersuara walau bisu
Kau lahirkan kehidupan baru
hadirkan logika penuh ilmu
cerahkan fana di depanku


Sore itu
Indah
Pandang mentari yang rukun
dengan awan
Kemarin mereka bertengkar
Mentari yang ingin bersinar
awan ingin air bertebar
Basah
Udara basah terasa hangat
angin berdesah hidmad
Mudah
Habiskan dingin air yang biasa basi
Basi karena mentari karena awan dan mentari
 yang tak sehati
Kata penjual es yang curahkan isi hati



Pengalaman
Waktu itu aku dua
Tak lagi akan ku buka
Aku takut akan Dia
Aku tak pernah bisa
Lepaskan jerat tali dosa

Akan ku buat ini usai
Akan semua derita ini

Sakit yang kurasa
jangan pernah kau coba
Anak dan anak-anakku
jangan seperti ayah-ayahmu
Sesalpun tak berarti
bila sudah jadi begini
Kesalahan tetap kesalahan
mengaca diriku akan
padanya yang tak terlupakan


Terjerat Cinta
Putih cinta yang ku punya
terasa perih bak duka
Selalu aku yang patah
malu akan diriku sendiri
yang acap seperti mati

Cintaku yang dalam jadi mengapa
kaku hatimu tak ku rasa
Terbelenggu atas dusta
Menjalani cinta yang menyiksa

Oh Pengatur nafas darah
Apakah aku harus menyerah?
Tapi aku cinta dia
Cinta yang ujungnya pun tak kurasa

Oh Pengatur jari nadi
Beri tahu dia untuk menjadi
atau buat cinta ini mati


Cintaku
Aku begitu mencintaimu
meski tak melebihiku
Aku begitu mengagumimu
meski tak mabukkanku

Cinta ini biasa saja
Harapan itu pernah ada
tipu asa yang tak terasa
bersitkan luka di jiwa

Cinta ini tak gila
meski kau buat sirna
ku kan terus mencoba
mungkin aku tak jera
Tapi aku tak buta jua

Ini aku dengan caraku
yang tetap bisa hidup tanpamu


 Ibu
Kau pemahat patung tubuhku
desainer tata ruang hidupku
jalan terang tangan Tuhan
Kasih sayang terwujud takut
Menyelam relung dalam lautan
pun tak terukur perih tutur
Dedaunan jadi kertas
air hujan jadi pulasan
tak kuat mencatat nikmat
Tuhan buat jadi malaikat


 Adilkah
Kadang bumi ini tak bersahabat
derita acap kita temui dalam cerita
Kais sampah antara gedung mewah
para kaya melihatnya nyata tanpa rasa
Adakah asa untuk berempati
atau hanya  sekedar bersimpati
Wanita balita yang tampak paruh baya
gendong adiknya yang tanpa canda
Mereka mengemis dalam deras gerimis
di hadapan bengis dunia mereka menangis

 
Nyanyian Kehidupan
Bernyanyi dan berkata ganda
lantang dan sendu jadi satu
Tak termakan oleh masa
yang semakin menjepit
tentukan nasib cerita gesit

Iringi alur dan kisah
indah melebur bersama khotbah
Kadang menghentak
tapi terdengar pilu merdu
Jejeran sanggul yang meradang
nyanyikan perjalanan panjang

Ini kisah gambaran kehidupan
Tentang kebaikan dan keburukan
Tentang cinta dan kebebasan
Terkikis janji manis
tersingkir dari pikiran dan harapan
Tempat Penjahat
Tempat para penjahat
kalah dan terjerat
dalam kutukan hina
penat yang tak singkat

Kini hanyalah lambang
wadah sejuta sampah
Jadi tempat sarat ramah
surga yang penuh intrik
Tempat suntik dan politik

Runtuhnya wibawa
tergempur derasnya harta
Mengalir secadas petir
Manusia penuh dahaga
tak hiraukan getas dosa


Aku Pendosa
Terdiam dalam sunyi
terenyuh dalam tahta
tertatih dalam nuansa
Menapaki pasir putih
merajut sunyinya mentari
Hanya padaMu ku memuji
berserah akan kuasamu
Terbalas dusta
berbalas hina
Tiada acuh akan anugerah
hidup mati hanya untukmu
berserah diri hanya padaMu
bertaubat akan hinaku
Ranting dustakan fana dunia
Merasuki relung yang keji
tiada syukur terpanjat
hanya bualan terperanjat
Menimbun asa dalam jiwa
hadirkan makna dalam tanya
Siapa yang ada?
Tersadar akan keagungan
terbesit akan satu ingatan
Tuhan pencita alam
tiada dewa penggantiNya


 Siapa Dia
Tuhan memberi dua kaki untuk berjalan
dua tangan untuk memegang
dua telinga untuk mendengar
dan dua mata untuk melihat
Tapi mengapa tuhan hanya menganugrahkan
sekeping hati pada kita
Karena tuhan telah memberikan
sekeping lagi hati
pada seorang untuk kita mencarinya

Itulah namanya cinta

Mungkin tuhan menginginkan kita bertemu
dan menyayangi orang yang salah
sebelum bertemu orang yang tepat
Kita harus mengerti bagaimana
berterima kasih atas karunia itu


Tuhan dan janjiNya
Tuhan tak pernah berjanji
Bahwa langit selamanya biru
 bunga mekar ke arah tertentu
matahari akan bersinar tanpa hujan
kesenangan datang tanpa kesedihan
kedamaian datang tanpa penderitaan

Tapi Tuhan berjanji
Bahwa ada kekuatan datang tiap hari
istirahat bagi yang telah bekerja
cahaya bagi yang berjalan di jalannya
kebahagiaan tiba sesudah lautan cobaan
bantuanNya akan tiba berterusan
Dia terus mengasihi tanpa henti
cintaNya selalu kekal abadi



Doaku Ayahku
Lelapmu malam ini
Kisahkan beribu perjuangan hari ini
Tangan kasar kulit legam dan ribuan peluh kau teteskan
Demi masa depan
Mungkinkah kelak ku kan sepertimu

Pahlawan keluarga
Yang tak pernah putus asa
Di malam yang sunyi ini
Ku berdoa pada Illahi
Semoga hari esok
Engkau kan dapat rizki
Hingga dapat kau beri
Senyum bahagia keluarga kecil ini


Hangat Malam Ini
Apakah bintang masih di langit yang sama?
Dia pernah berkata
Bintang dan rembulan itu akan selalu berpencar di langit
dan aku bisa melihatnya selama malam masih ada
Dia bilang aku bisa merasakan hangat matahari
selama pagi dan siang setia mengunjungi bumi
Aku juga menyukai kilat yang kadang datang
kala hujan menjadi deras
meski tak harus menggelegar
cukup memberi cahaya pendar meski sesaat


Kau Berjasa
Lantang suara berderai
menghujang keras membelai
Potongan teka-teki
yang kau satukan lagi
Seperti pecahan kaca
yang rekat kau baca
Gambaran utuh satu insani
Baris demi baris
Bait demi bait
Terlontar pada ruang kosong
mengisi benak hampa
Sempurnakan pucuk jalan
tebarkan serbuk harapan
Darimu guru
Untuk kami yang tak lugu



Pilihan
Terhimpit banyak luka
diantara dua logika
Aku cinta kau dan mereka

Cinta yang milikmu ini
tak mungkin ku bagi
Tapi diri dan ragaku
tak dapat relakan
kenyataan tuk lepaskan
Maafkan aku sayang


Alamku Sakit
Semesta ini meringis menangis
nista bisul di tubuhnya pecah
Kulitnya kering merinding
namun basah darah merah
Nafasnya penuh racun
tak sisakan ruang tuk embun
Mungkin payah karena lelah
atau tak sanggup lagi mengalah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar