Minggu, 10 Juni 2012

Puisi

Puisi

cha-cha-cha
dan kita mulai berdansa
dengan rangkaian kata
dan untaian makna

kadang aku merana
menyiksa diri
atau hanya sekedar mencurahkan isi hati

puisi
kau kawan sejati tuk berbagi

sahabat setia hingga penat sirna
dan mereka juga

Sabtu, 09 Juni 2012

Wakil-wakil Kita
       Unjuk rasa yang menyuarakan tentang kekecewaan rakyat terhadap kepemimpinan pemerintah bukanlah hal yang asing lagi. Kali ini unjuk rasa ini terjadi karena banyaknya kecelakaan di sepanjang jalan kenangan kota Baru. Pengguna jalan sangat menyayangkan kepedulian pemerintah yang sangat minim terhadap daerah tersebut. Mungkin karena daerah tersebut merupakan daerah pinggiran yang jarang dikunjungi oleh orang-orang penting.
               “Kemana uang kami? Kemana keadilan?” tanya para demonstran dengan lantang.
Rapat yang diusulkan oleh dewan perwakilan rakyat pun dilakukan. Sulit dan berliku-liku. Begitulah kira-kira rapat itu.
           “Bukankah seharusnya jalan itu sudah diperbaiki Pak?”  Pak Marno adalah perwakilan yang ditunjuk oleh demonstran untuk berdialog dengan anggota dewan.
               “Sebenarnya ada Pak anggaran untuk perbaikan jalan di tempat bapak,”
             “Tapi mana buktinya? Terakhir jalan di kota baru itu diperbaiki adalah sepuluh tahun yang lalu. Dan sekarang sudah jadi kolam renang bagi bebek dan entok warga yang tinggal di sekitar jalan. Kamana anggarannya?” Pak Marno yang terlajur emosi memotong penjelasan Pak Dirto.
            “Sebentar pak. Biarkan saya menjelaskan pokok masalahnya. Ini tidak semudah apa yang bapak dan bapak-bapak di luar itu pikirkan. Semuanya butuh waktu dan perhitungan yang tepat. Kami juga harus membagi anggaran untuk beberapa wilayah yang lebih membutuhkan anggaran dari pemerintah. Anggaran pendidikan dan kesehatan masih menjadi prioritas kami ketimbang hanya perbaikan jalan.” Jelas Pak Dirto lebih lanjut.
             “Hanya perbaikan jalan? Apakah dua belas korban meninggal dalam setahun masih kurang untuk mengatakan masalah perbaikan jalan adalah masalah yang serius? Pokoknya kami ingin jalan di kota Baru di perbaiki segera!”
            Terjadi perdebatan sengit antara wakil demonstran dengan para wakil rakyat di ruang sidang. Namun pada akhirnya para wakil rakyat mengalah dan memilih mengabulkan permintaan para demonstran.
            “Baiklah Pak. jalan di kota Baru akan segera diperbaiki. Namun kami minta kesadaran bapak-bapak sekalian untuk mengerti. Semuanya butuh proses dan waktu kan Pak? Jadi kami minta warga kota Baru mau untuk bersabar.
Rapat itu pun usai. Janji yang diucapkan oleh Pak Dirto sangatlah dinanti oleh warga kota Baru. Setelah Pak Marno memberi tahukan hasil rapat kepada demonstran, maka demonstran pun membubarkan diri dengan damai.
          Setelah menunggu beberapa bulan, proses perbaikan pun mulai terlihat. Batu-batu yang disusun di samping jalan, jalan yang ditandai dengan pewarna, dan lain-lain. Para wakil rakyat pun mengadakan rapat tentang rancangan perbaikan jalan. Namun ditengah-tengah rapat terjadi perbedaan pendapat tentang rancangan anggaran pembelanjaan alat dan bahan perbaikan jalan.
            “Bukankah dengan uang sebanyak ini kita seharusnya mendapatkan bahan yang lebih baik dan lebih banyak Pak?” Pak Bobi menanyakan rincian anggaran yang dirasanya sangat berlebihan.
         “Tapikan kota Baru jarang dilewati mobil dan bus besar Pak. Jadi saya rasa tidak membutuhkan bahan-bahan yang kualitasnya lebih. Saya rasa bahan-bahan yang sudah dipesan tersebut sudah cukup baik.” Pak Dirto memberi penjelasan kepada Pak Bobi.
             “Bukan itu masalahnya Pak. Tapi anggaranya ini yang menjadi masalah bagi saya. Kemana sisa anggaran yang lain Pak?” Pak Bobi adalah orang yang lebih memperhatikan nasib rakyat ketimbang kepentingan anggota dewan. Jadi Ia terus mendesak anggota dewan yang lain untuk merevisi anggaran pembangunan jalan yang dirasanya sangat tidak sesuai.
           “Ah, jangan sok suci Pak. kita kan juga butuh banyak perbaikan untuk ruangan kerja kita. Sisa uangnya nanti untuk tambahan dana renovasi ruang kerja kita Pak. Kita melakukan ini supaya anggaran yang kita ajukan untuk renovasi ruangan tidak terlalu besar, agar rakyat tidak melakukan demo-demo seperti di DPR pusat.” Pak Jarwo memberikan alasan yang lain.
            “Tapi saya tetap tidak setuju dengan proposal anggaran ini. Kita jangan memperparah keadaan rakyat kita yang sudah parah, kasihan mereka.” Pak Bobi terus mendesak.
          “Pak Bobi, ini tidak separah yang Bapak pikirkan. Lagi pula Bapak juga nanti yang akan merasakan enaknya. Bapak bisa bekerja lebih maksimal, bisa menerima tamu penting yang menyampaikan aspirasi, dan banyak yang dapat kita lakukan dengan labih baik untuk rakyat dengan renovasi yang sesuai dengan kapasitas kita sebagai wakil rakyat. Kadang suatu kebaikan itu membutuhkan pengorbanan Pak Bobi.” Pak Dirto sedikit emosi.
               “Tapi kenapa selalu rakyat yang berkorban?” tanya Pak Bobi menyindir.
Akhirnya sidang yang alot itu ditunda untuk waktu yang belum ditentukan. Mungkin menunggu suasana panas ini sedikit mencair. Keinginan anggota dewan untuk mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut begitu besar. Mereka ingin mendapat bagian dari proyek perbaikan jalan yang memakan uang yang begitu banyak dengan dalih perbaikan kualitas sarana dan prasarana kerja. Namun upaya mereka mendapat halangan yang cukup serius dari Pak Bobi dan beberapa kawan yang menurut mereka sok suci. Pak Bobi adalah orang yang paling berpotensi dapat merusak rencana mereka. Hal ini disebabkan pengaruh Pak Bobi yang cukup besar bagi teman-teman anggota dewan yang lain. Ini menyebabkan anggota dewan yang ingin mendapatkan bagian uang geram dan mengucilkan Pak Bobi. Kini anggota dewan yang terhormat menjelma menjadi semacam perkumpulan anak SMA yang menggerombol dan berkelompok. Pak Bobi dengan teman yang menolak anggaran dan Pak Dirto yang menginginkan bagian dari uang pembangunan jalan dengan mengorbankan rakyat kecil.
             Menjelang rapat selanjutnya yang akan diadakan di tempat yang sama dengan rapat yang sebelumnya, Pak Bobi mengalami kecelakaan mobil dan meninggal dunia. Menurut keterangan polisi kecelakaan ini diakibatkan rem mobil yang dikendarai Pak Bobi putus. Seluruh anggota dewan turut berdukan. Namun rapat tetap dijalankan dan akhirnya mengesahkan anggaran yang diajukan sebelumnya.

puisi


Kesan Jalanku
Jiwa muda yang membara
pancarkan secercah cahaya
Tertuju pada sebuah masa
Terangkan tapak jalan asa

Hei kau pembias ungu
yang tertawa walau pilu
Kikis manis putih abu-abu
jalan temukan semua pengertian
Kadang berat kurasa ini beban
tapi yakin ku bisa kalahkan

Hai taman pengurai wahyu
yang bersuara walau bisu
Kau lahirkan kehidupan baru
hadirkan logika penuh ilmu
cerahkan fana di depanku


Sore itu
Indah
Pandang mentari yang rukun
dengan awan
Kemarin mereka bertengkar
Mentari yang ingin bersinar
awan ingin air bertebar
Basah
Udara basah terasa hangat
angin berdesah hidmad
Mudah
Habiskan dingin air yang biasa basi
Basi karena mentari karena awan dan mentari
 yang tak sehati
Kata penjual es yang curahkan isi hati



Pengalaman
Waktu itu aku dua
Tak lagi akan ku buka
Aku takut akan Dia
Aku tak pernah bisa
Lepaskan jerat tali dosa

Akan ku buat ini usai
Akan semua derita ini

Sakit yang kurasa
jangan pernah kau coba
Anak dan anak-anakku
jangan seperti ayah-ayahmu
Sesalpun tak berarti
bila sudah jadi begini
Kesalahan tetap kesalahan
mengaca diriku akan
padanya yang tak terlupakan


Terjerat Cinta
Putih cinta yang ku punya
terasa perih bak duka
Selalu aku yang patah
malu akan diriku sendiri
yang acap seperti mati

Cintaku yang dalam jadi mengapa
kaku hatimu tak ku rasa
Terbelenggu atas dusta
Menjalani cinta yang menyiksa

Oh Pengatur nafas darah
Apakah aku harus menyerah?
Tapi aku cinta dia
Cinta yang ujungnya pun tak kurasa

Oh Pengatur jari nadi
Beri tahu dia untuk menjadi
atau buat cinta ini mati


Cintaku
Aku begitu mencintaimu
meski tak melebihiku
Aku begitu mengagumimu
meski tak mabukkanku

Cinta ini biasa saja
Harapan itu pernah ada
tipu asa yang tak terasa
bersitkan luka di jiwa

Cinta ini tak gila
meski kau buat sirna
ku kan terus mencoba
mungkin aku tak jera
Tapi aku tak buta jua

Ini aku dengan caraku
yang tetap bisa hidup tanpamu


 Ibu
Kau pemahat patung tubuhku
desainer tata ruang hidupku
jalan terang tangan Tuhan
Kasih sayang terwujud takut
Menyelam relung dalam lautan
pun tak terukur perih tutur
Dedaunan jadi kertas
air hujan jadi pulasan
tak kuat mencatat nikmat
Tuhan buat jadi malaikat


 Adilkah
Kadang bumi ini tak bersahabat
derita acap kita temui dalam cerita
Kais sampah antara gedung mewah
para kaya melihatnya nyata tanpa rasa
Adakah asa untuk berempati
atau hanya  sekedar bersimpati
Wanita balita yang tampak paruh baya
gendong adiknya yang tanpa canda
Mereka mengemis dalam deras gerimis
di hadapan bengis dunia mereka menangis

 
Nyanyian Kehidupan
Bernyanyi dan berkata ganda
lantang dan sendu jadi satu
Tak termakan oleh masa
yang semakin menjepit
tentukan nasib cerita gesit

Iringi alur dan kisah
indah melebur bersama khotbah
Kadang menghentak
tapi terdengar pilu merdu
Jejeran sanggul yang meradang
nyanyikan perjalanan panjang

Ini kisah gambaran kehidupan
Tentang kebaikan dan keburukan
Tentang cinta dan kebebasan
Terkikis janji manis
tersingkir dari pikiran dan harapan
Tempat Penjahat
Tempat para penjahat
kalah dan terjerat
dalam kutukan hina
penat yang tak singkat

Kini hanyalah lambang
wadah sejuta sampah
Jadi tempat sarat ramah
surga yang penuh intrik
Tempat suntik dan politik

Runtuhnya wibawa
tergempur derasnya harta
Mengalir secadas petir
Manusia penuh dahaga
tak hiraukan getas dosa


Aku Pendosa
Terdiam dalam sunyi
terenyuh dalam tahta
tertatih dalam nuansa
Menapaki pasir putih
merajut sunyinya mentari
Hanya padaMu ku memuji
berserah akan kuasamu
Terbalas dusta
berbalas hina
Tiada acuh akan anugerah
hidup mati hanya untukmu
berserah diri hanya padaMu
bertaubat akan hinaku
Ranting dustakan fana dunia
Merasuki relung yang keji
tiada syukur terpanjat
hanya bualan terperanjat
Menimbun asa dalam jiwa
hadirkan makna dalam tanya
Siapa yang ada?
Tersadar akan keagungan
terbesit akan satu ingatan
Tuhan pencita alam
tiada dewa penggantiNya


 Siapa Dia
Tuhan memberi dua kaki untuk berjalan
dua tangan untuk memegang
dua telinga untuk mendengar
dan dua mata untuk melihat
Tapi mengapa tuhan hanya menganugrahkan
sekeping hati pada kita
Karena tuhan telah memberikan
sekeping lagi hati
pada seorang untuk kita mencarinya

Itulah namanya cinta

Mungkin tuhan menginginkan kita bertemu
dan menyayangi orang yang salah
sebelum bertemu orang yang tepat
Kita harus mengerti bagaimana
berterima kasih atas karunia itu


Tuhan dan janjiNya
Tuhan tak pernah berjanji
Bahwa langit selamanya biru
 bunga mekar ke arah tertentu
matahari akan bersinar tanpa hujan
kesenangan datang tanpa kesedihan
kedamaian datang tanpa penderitaan

Tapi Tuhan berjanji
Bahwa ada kekuatan datang tiap hari
istirahat bagi yang telah bekerja
cahaya bagi yang berjalan di jalannya
kebahagiaan tiba sesudah lautan cobaan
bantuanNya akan tiba berterusan
Dia terus mengasihi tanpa henti
cintaNya selalu kekal abadi



Doaku Ayahku
Lelapmu malam ini
Kisahkan beribu perjuangan hari ini
Tangan kasar kulit legam dan ribuan peluh kau teteskan
Demi masa depan
Mungkinkah kelak ku kan sepertimu

Pahlawan keluarga
Yang tak pernah putus asa
Di malam yang sunyi ini
Ku berdoa pada Illahi
Semoga hari esok
Engkau kan dapat rizki
Hingga dapat kau beri
Senyum bahagia keluarga kecil ini


Hangat Malam Ini
Apakah bintang masih di langit yang sama?
Dia pernah berkata
Bintang dan rembulan itu akan selalu berpencar di langit
dan aku bisa melihatnya selama malam masih ada
Dia bilang aku bisa merasakan hangat matahari
selama pagi dan siang setia mengunjungi bumi
Aku juga menyukai kilat yang kadang datang
kala hujan menjadi deras
meski tak harus menggelegar
cukup memberi cahaya pendar meski sesaat


Kau Berjasa
Lantang suara berderai
menghujang keras membelai
Potongan teka-teki
yang kau satukan lagi
Seperti pecahan kaca
yang rekat kau baca
Gambaran utuh satu insani
Baris demi baris
Bait demi bait
Terlontar pada ruang kosong
mengisi benak hampa
Sempurnakan pucuk jalan
tebarkan serbuk harapan
Darimu guru
Untuk kami yang tak lugu



Pilihan
Terhimpit banyak luka
diantara dua logika
Aku cinta kau dan mereka

Cinta yang milikmu ini
tak mungkin ku bagi
Tapi diri dan ragaku
tak dapat relakan
kenyataan tuk lepaskan
Maafkan aku sayang


Alamku Sakit
Semesta ini meringis menangis
nista bisul di tubuhnya pecah
Kulitnya kering merinding
namun basah darah merah
Nafasnya penuh racun
tak sisakan ruang tuk embun
Mungkin payah karena lelah
atau tak sanggup lagi mengalah