Sabtu, 09 Juni 2012

Wakil-wakil Kita
       Unjuk rasa yang menyuarakan tentang kekecewaan rakyat terhadap kepemimpinan pemerintah bukanlah hal yang asing lagi. Kali ini unjuk rasa ini terjadi karena banyaknya kecelakaan di sepanjang jalan kenangan kota Baru. Pengguna jalan sangat menyayangkan kepedulian pemerintah yang sangat minim terhadap daerah tersebut. Mungkin karena daerah tersebut merupakan daerah pinggiran yang jarang dikunjungi oleh orang-orang penting.
               “Kemana uang kami? Kemana keadilan?” tanya para demonstran dengan lantang.
Rapat yang diusulkan oleh dewan perwakilan rakyat pun dilakukan. Sulit dan berliku-liku. Begitulah kira-kira rapat itu.
           “Bukankah seharusnya jalan itu sudah diperbaiki Pak?”  Pak Marno adalah perwakilan yang ditunjuk oleh demonstran untuk berdialog dengan anggota dewan.
               “Sebenarnya ada Pak anggaran untuk perbaikan jalan di tempat bapak,”
             “Tapi mana buktinya? Terakhir jalan di kota baru itu diperbaiki adalah sepuluh tahun yang lalu. Dan sekarang sudah jadi kolam renang bagi bebek dan entok warga yang tinggal di sekitar jalan. Kamana anggarannya?” Pak Marno yang terlajur emosi memotong penjelasan Pak Dirto.
            “Sebentar pak. Biarkan saya menjelaskan pokok masalahnya. Ini tidak semudah apa yang bapak dan bapak-bapak di luar itu pikirkan. Semuanya butuh waktu dan perhitungan yang tepat. Kami juga harus membagi anggaran untuk beberapa wilayah yang lebih membutuhkan anggaran dari pemerintah. Anggaran pendidikan dan kesehatan masih menjadi prioritas kami ketimbang hanya perbaikan jalan.” Jelas Pak Dirto lebih lanjut.
             “Hanya perbaikan jalan? Apakah dua belas korban meninggal dalam setahun masih kurang untuk mengatakan masalah perbaikan jalan adalah masalah yang serius? Pokoknya kami ingin jalan di kota Baru di perbaiki segera!”
            Terjadi perdebatan sengit antara wakil demonstran dengan para wakil rakyat di ruang sidang. Namun pada akhirnya para wakil rakyat mengalah dan memilih mengabulkan permintaan para demonstran.
            “Baiklah Pak. jalan di kota Baru akan segera diperbaiki. Namun kami minta kesadaran bapak-bapak sekalian untuk mengerti. Semuanya butuh proses dan waktu kan Pak? Jadi kami minta warga kota Baru mau untuk bersabar.
Rapat itu pun usai. Janji yang diucapkan oleh Pak Dirto sangatlah dinanti oleh warga kota Baru. Setelah Pak Marno memberi tahukan hasil rapat kepada demonstran, maka demonstran pun membubarkan diri dengan damai.
          Setelah menunggu beberapa bulan, proses perbaikan pun mulai terlihat. Batu-batu yang disusun di samping jalan, jalan yang ditandai dengan pewarna, dan lain-lain. Para wakil rakyat pun mengadakan rapat tentang rancangan perbaikan jalan. Namun ditengah-tengah rapat terjadi perbedaan pendapat tentang rancangan anggaran pembelanjaan alat dan bahan perbaikan jalan.
            “Bukankah dengan uang sebanyak ini kita seharusnya mendapatkan bahan yang lebih baik dan lebih banyak Pak?” Pak Bobi menanyakan rincian anggaran yang dirasanya sangat berlebihan.
         “Tapikan kota Baru jarang dilewati mobil dan bus besar Pak. Jadi saya rasa tidak membutuhkan bahan-bahan yang kualitasnya lebih. Saya rasa bahan-bahan yang sudah dipesan tersebut sudah cukup baik.” Pak Dirto memberi penjelasan kepada Pak Bobi.
             “Bukan itu masalahnya Pak. Tapi anggaranya ini yang menjadi masalah bagi saya. Kemana sisa anggaran yang lain Pak?” Pak Bobi adalah orang yang lebih memperhatikan nasib rakyat ketimbang kepentingan anggota dewan. Jadi Ia terus mendesak anggota dewan yang lain untuk merevisi anggaran pembangunan jalan yang dirasanya sangat tidak sesuai.
           “Ah, jangan sok suci Pak. kita kan juga butuh banyak perbaikan untuk ruangan kerja kita. Sisa uangnya nanti untuk tambahan dana renovasi ruang kerja kita Pak. Kita melakukan ini supaya anggaran yang kita ajukan untuk renovasi ruangan tidak terlalu besar, agar rakyat tidak melakukan demo-demo seperti di DPR pusat.” Pak Jarwo memberikan alasan yang lain.
            “Tapi saya tetap tidak setuju dengan proposal anggaran ini. Kita jangan memperparah keadaan rakyat kita yang sudah parah, kasihan mereka.” Pak Bobi terus mendesak.
          “Pak Bobi, ini tidak separah yang Bapak pikirkan. Lagi pula Bapak juga nanti yang akan merasakan enaknya. Bapak bisa bekerja lebih maksimal, bisa menerima tamu penting yang menyampaikan aspirasi, dan banyak yang dapat kita lakukan dengan labih baik untuk rakyat dengan renovasi yang sesuai dengan kapasitas kita sebagai wakil rakyat. Kadang suatu kebaikan itu membutuhkan pengorbanan Pak Bobi.” Pak Dirto sedikit emosi.
               “Tapi kenapa selalu rakyat yang berkorban?” tanya Pak Bobi menyindir.
Akhirnya sidang yang alot itu ditunda untuk waktu yang belum ditentukan. Mungkin menunggu suasana panas ini sedikit mencair. Keinginan anggota dewan untuk mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut begitu besar. Mereka ingin mendapat bagian dari proyek perbaikan jalan yang memakan uang yang begitu banyak dengan dalih perbaikan kualitas sarana dan prasarana kerja. Namun upaya mereka mendapat halangan yang cukup serius dari Pak Bobi dan beberapa kawan yang menurut mereka sok suci. Pak Bobi adalah orang yang paling berpotensi dapat merusak rencana mereka. Hal ini disebabkan pengaruh Pak Bobi yang cukup besar bagi teman-teman anggota dewan yang lain. Ini menyebabkan anggota dewan yang ingin mendapatkan bagian uang geram dan mengucilkan Pak Bobi. Kini anggota dewan yang terhormat menjelma menjadi semacam perkumpulan anak SMA yang menggerombol dan berkelompok. Pak Bobi dengan teman yang menolak anggaran dan Pak Dirto yang menginginkan bagian dari uang pembangunan jalan dengan mengorbankan rakyat kecil.
             Menjelang rapat selanjutnya yang akan diadakan di tempat yang sama dengan rapat yang sebelumnya, Pak Bobi mengalami kecelakaan mobil dan meninggal dunia. Menurut keterangan polisi kecelakaan ini diakibatkan rem mobil yang dikendarai Pak Bobi putus. Seluruh anggota dewan turut berdukan. Namun rapat tetap dijalankan dan akhirnya mengesahkan anggaran yang diajukan sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar