Wakil-wakil
Kita
Unjuk
rasa yang menyuarakan tentang kekecewaan rakyat terhadap kepemimpinan
pemerintah bukanlah hal yang asing lagi. Kali ini unjuk rasa ini terjadi karena
banyaknya kecelakaan di sepanjang jalan kenangan kota Baru. Pengguna jalan
sangat menyayangkan kepedulian pemerintah yang sangat minim terhadap daerah
tersebut. Mungkin karena daerah tersebut merupakan daerah pinggiran yang jarang
dikunjungi oleh orang-orang penting.
“Kemana
uang kami? Kemana keadilan?” tanya para demonstran dengan lantang.
Rapat
yang diusulkan oleh dewan perwakilan rakyat pun dilakukan. Sulit dan
berliku-liku. Begitulah kira-kira rapat itu.
“Bukankah
seharusnya jalan itu sudah diperbaiki Pak?”
Pak Marno adalah perwakilan yang ditunjuk oleh demonstran untuk
berdialog dengan anggota dewan.
“Sebenarnya
ada Pak anggaran untuk perbaikan jalan di tempat bapak,”
“Tapi
mana buktinya? Terakhir jalan di kota baru itu diperbaiki adalah sepuluh tahun
yang lalu. Dan sekarang sudah jadi kolam renang bagi bebek dan entok warga yang
tinggal di sekitar jalan. Kamana anggarannya?” Pak Marno yang terlajur emosi
memotong penjelasan Pak Dirto.
“Sebentar
pak. Biarkan saya menjelaskan pokok masalahnya. Ini tidak semudah apa yang
bapak dan bapak-bapak di luar itu pikirkan. Semuanya butuh waktu dan
perhitungan yang tepat. Kami juga harus membagi anggaran untuk beberapa wilayah
yang lebih membutuhkan anggaran dari pemerintah. Anggaran pendidikan dan
kesehatan masih menjadi prioritas kami ketimbang hanya perbaikan jalan.” Jelas
Pak Dirto lebih lanjut.
“Hanya
perbaikan jalan? Apakah dua belas korban meninggal dalam setahun masih kurang
untuk mengatakan masalah perbaikan jalan adalah masalah yang serius? Pokoknya
kami ingin jalan di kota Baru di perbaiki segera!”
Terjadi
perdebatan sengit antara wakil demonstran dengan para wakil rakyat di ruang
sidang. Namun pada akhirnya para wakil rakyat mengalah dan memilih mengabulkan
permintaan para demonstran.
“Baiklah
Pak. jalan di kota Baru akan segera diperbaiki. Namun kami minta kesadaran
bapak-bapak sekalian untuk mengerti. Semuanya butuh proses dan waktu kan Pak?
Jadi kami minta warga kota Baru mau untuk bersabar.
Rapat
itu pun usai. Janji yang diucapkan oleh Pak Dirto sangatlah dinanti oleh warga
kota Baru. Setelah Pak Marno memberi tahukan hasil rapat kepada demonstran,
maka demonstran pun membubarkan diri dengan damai.
Setelah
menunggu beberapa bulan, proses perbaikan pun mulai terlihat. Batu-batu yang
disusun di samping jalan, jalan yang ditandai dengan pewarna, dan lain-lain.
Para wakil rakyat pun mengadakan rapat tentang rancangan perbaikan jalan. Namun
ditengah-tengah rapat terjadi perbedaan pendapat tentang rancangan anggaran
pembelanjaan alat dan bahan perbaikan jalan.
“Bukankah
dengan uang sebanyak ini kita seharusnya mendapatkan bahan yang lebih baik dan
lebih banyak Pak?” Pak Bobi menanyakan rincian anggaran yang dirasanya sangat
berlebihan.
“Tapikan
kota Baru jarang dilewati mobil dan bus besar Pak. Jadi saya rasa tidak
membutuhkan bahan-bahan yang kualitasnya lebih. Saya rasa bahan-bahan yang
sudah dipesan tersebut sudah cukup baik.” Pak Dirto memberi penjelasan kepada
Pak Bobi.
“Bukan
itu masalahnya Pak. Tapi anggaranya ini yang menjadi masalah bagi saya. Kemana
sisa anggaran yang lain Pak?” Pak Bobi adalah orang yang lebih memperhatikan
nasib rakyat ketimbang kepentingan anggota dewan. Jadi Ia terus mendesak
anggota dewan yang lain untuk merevisi anggaran pembangunan jalan yang
dirasanya sangat tidak sesuai.
“Ah,
jangan sok suci Pak. kita kan juga butuh banyak perbaikan untuk ruangan kerja
kita. Sisa uangnya nanti untuk tambahan dana renovasi ruang kerja kita Pak.
Kita melakukan ini supaya anggaran yang kita ajukan untuk renovasi ruangan
tidak terlalu besar, agar rakyat tidak melakukan demo-demo seperti di DPR
pusat.” Pak Jarwo memberikan alasan yang lain.
“Tapi
saya tetap tidak setuju dengan proposal anggaran ini. Kita jangan memperparah
keadaan rakyat kita yang sudah parah, kasihan mereka.” Pak Bobi terus mendesak.
“Pak
Bobi, ini tidak separah yang Bapak pikirkan. Lagi pula Bapak juga nanti yang
akan merasakan enaknya. Bapak bisa bekerja lebih maksimal, bisa menerima tamu
penting yang menyampaikan aspirasi, dan banyak yang dapat kita lakukan dengan
labih baik untuk rakyat dengan renovasi yang sesuai dengan kapasitas kita
sebagai wakil rakyat. Kadang suatu kebaikan itu membutuhkan pengorbanan Pak
Bobi.” Pak Dirto sedikit emosi.
“Tapi
kenapa selalu rakyat yang berkorban?” tanya Pak Bobi menyindir.
Akhirnya
sidang yang alot itu ditunda untuk waktu yang belum ditentukan. Mungkin
menunggu suasana panas ini sedikit mencair. Keinginan anggota dewan untuk
mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut begitu besar. Mereka ingin mendapat
bagian dari proyek perbaikan jalan yang memakan uang yang begitu banyak dengan
dalih perbaikan kualitas sarana dan prasarana kerja. Namun upaya mereka
mendapat halangan yang cukup serius dari Pak Bobi dan beberapa kawan yang menurut
mereka sok suci. Pak Bobi adalah orang yang paling berpotensi dapat merusak
rencana mereka. Hal ini disebabkan pengaruh Pak Bobi yang cukup besar bagi
teman-teman anggota dewan yang lain. Ini menyebabkan anggota dewan yang ingin
mendapatkan bagian uang geram dan mengucilkan Pak Bobi. Kini anggota dewan yang
terhormat menjelma menjadi semacam perkumpulan anak SMA yang menggerombol dan
berkelompok. Pak Bobi dengan teman yang menolak anggaran dan Pak Dirto yang
menginginkan bagian dari uang pembangunan jalan dengan mengorbankan rakyat
kecil.
Menjelang
rapat selanjutnya yang akan diadakan di tempat yang sama dengan rapat yang
sebelumnya, Pak Bobi mengalami kecelakaan mobil dan meninggal dunia. Menurut
keterangan polisi kecelakaan ini diakibatkan rem mobil yang dikendarai Pak Bobi
putus. Seluruh anggota dewan turut berdukan. Namun rapat tetap dijalankan dan
akhirnya mengesahkan anggaran yang diajukan sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar